EFEK PUTUSAN PDIP TUTUP PINTU GERBANG KOALISI PERUBAHAN, 2024 SERU

Tensi politik menjelang pemilu 2004 terasa makin hangat bahkan terkadang panas. hubungan Partai Nasdem dan PDIP sempat diindikasikan panas, PDIP terus menekan Nasdem agar para menterinya segera cabut dari kabinet. Tetapi sekarang sudah reda, setelah Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh bertemu dengan Presiden Jokowi. Isu reshuffle kabinet Rabu Pon pun terlewati mulus dan sampai sekarang tidak ada reshuffle kabinet dari NasDem. Berita terbaru, Anies Baswedan berhak mendapat dukungan dari 3 partai yakni Partai Nasdem, PKS, dan Partai Demokrat. Anis sudah memenuhi syarat alias telah mendapat tiket capres dilihat dari ambang batas PT 20% sementara PDIP tercium akan berkoalisi dengan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) dan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR). KIB beranggotakan Golkar, Pan, dan PPP, sementara KKIR merupakan koalisi yang terdiri atas Gerindra dan PKB. Jika ini terjadi, berarti Anies Baswedan dari Koalisi Perubahan akan menghadapi lawan besar. Yang menarik kemudian muncul pernyataan Politik dari sekjen partai banteng, jika PDIP tidak akan bergabung dengan Koalisi Perubahan, pernyataan ini dinilai anggota Koalisi Perubahan sebagai pernyataan yang sombong. Menurut sekjen PDIP, “Tidak bergabung dengan koalisi maksudnya koalisi Yang tidak mengusung Pak Jokowi sehingga kami jelas berbeda dengan Nasdem, Demokrat, dan PKS yang telah mengusung Anies Baswedan.” sejauh mana efek pernyataan dari Sekjen partai banteng ini tentang menutup pintu untuk bergabung dengan koalisi perubahan sebenarnya tidak ada yang mengagetkan tidak ada yang salah dari pernyataan sekretaris jenderal PDIP hasto kristiyanto bahwa partainya menutup pintu kerjasama politik dengan bakal koalisi perubahan, sikap pdip tersebut sudah jelas sejak awal terlebih ketika bakal koalisi itu sama-sama mengusung Anies Baswedan yang disebut-sebut antitesis Jokowi sebagai calon presiden. terlebih secara terbuka pencapresan Anis sendiri diakui tidak direstui oleh Jokowi, Karena itu sikap pdip ini tak lain merupakan ekspresi penegasan sikap dan posisi perlawanan PDIP terhadap koalisi yang dibentuk oleh Nasdem, Demokrat, dan PKS menuju kontestasi Pilpres 2024. PKS yang akhirnya mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai bakal calon presiden menyusul Demokrat Nasdem, meski perolehan suara ketiga partai sudah memenuhi syarat presidential threshold 20% nyatanya koalisi perubahan belum satu suara soal nama cawapres. Meskipun begitu Demokrat mengklaim dirinya lebih maju daripada koalisi lain yang belum menentukan nama pasangan capres. Benarkah dan koalisi Perubahan tersebut atau justru konstelasi koalisi yang masih cair ini memungkinkan ada yang balik badan. “Demokrat PKS Nasdem ini Bang, saya jawab itu yang tadi apa namanya ditulis media tuh ya kita ini sudah lebih maju dari yang lain lah. Saya katakan ukurannya adalah sudah deklarasi belakang tanda tangan.” walaupun ini bisa dianggap sebagai bentuk perlawanan PDIP tapi hal tersebut merupakan hal yang wajar perbedaan koalisi tak boleh dilandaskan rasa politik dendam atau politik kebencian jangan sampai perbedaan koalisi hanya didasarkan pada politik dendam dan politik kebencian yang tidak mendidik masyarakat. Pernyataan Hasto tersebut sebagai bentuk penegasan PDIP dan memastikan pihak politik yang lebih beragam untuk Pemilu 2024. PDIP dipastikan tidak berkolisi dengan Nasdem, Demokrat, dan PKS maka, peluang partai berlambang banteng moncong putih itu akan sendirian atau berkoalisi dengan partai Islam seperti PPP bahkan PAN yang baru-baru ini memberikan kode kepada Ganjar - Erick. Jadi, ragam koalisi itu akan memberikan pilihan pemimpin yang lebih variatif kepada masyarakat. Sebab setiap koalisi akan menawarkan tokoh-tokoh capres dan cawapresnya. Koalisi Perubahan dengan Anies dan cawapresnya, PDIP dan kolega misalnya mengunsung Ganjar dan cawapresnya serta Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya menjagokan Prabowo dan Cak Imin misalnya, dengan adanya tiga pasangan capres dan cawapres akan menurunkan tensi politik nasional. selain lebih banyak pilihan masyarakat juga akan lebih tajam dalam mengarungi tahun politik 2024. Masyarakat harus tetap santuy, walaupun melihat elit partainya seperti bertengkar hebat atau sejenisnya. Karena mereka hanya politikus yang bisa dalam sekejap berubah sikap, lawan jadi kawan dan begitu sebaliknya. Lantas bagaimana menurut anda?


sumber : https://www.youtube.com/watch?v=aJKZ_HHPQTg


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Juara F1 Powerboat 2023 Bartek Marszalek || Danau Toba